MAKALAH MANAJEMEN KEBAKARAN

MAKALAH  MANAJEMEN KEBAKARAN



Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah

Manajemen Kebakaran

 

Dosen Pengampu: Triyono Rakhmadi S,KM., M.KKK

 Disusun oleh :

Lulu Rohadatul Aisy                     (F0019006)

PROGRAM DIV KESELAMATAN DAN KESEHAAN KERJA STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI

MANAJEMEN KEBAKARAN

A.    Pengertian Manajemen Kebakaran

Kebakaran adalah suatu peristiwa oksidasi yang melibatkan tiga unsur yang harus ada yaitu: bahan bakar, oksigen, dan sumber panas yang berakibat menimbulkan kerugian harta benda, cidera bahkan kematian. Oksigen secara alami merupakan sesuatu paling banyak berada di bumi, bahaya kebakaran biasanya melibatkan bahan bakar atau panas. Sehingga dapat dikatakan api bisa terbentuk jika terdapat keseimbangan tiga unsur yang terdiri dari bahan bakar, oksigen, dan panas atau sering disebut segitiga api.

 

B.     Klasifikasi Kebakaran

Menurut Peraturan Menteri no.04/MEN/1980 kebakaran klasifikasi menjadi 4, yaitu kategori A,B,C, D. Kebakaran Kategori A adalah kebakaran benda-benda padat seperti kayu, kertas, plastik. Kategori B adalah kebakaran benda bahan bakar cair atau gas, kebakaran terjadi karena diatas cairan pada umumnya terdapat gas dan gas tersebutlah yang terbakar, seperti bensin, keronsene, LPG, dan minyak. Kategori C adalah sebuah kebakaran yang disebapkan oleh suatu instalasi listrik yang rusak atau kongslet, contohnya braker listrik, peralatan elektronik. Kategori D adalah kebakaran pada benda-benda logam, seperti magnesium, alumunium, natrium.

            Menurut NFPA kebakaran dibedakan menjadi 6 kelas, yaitu:

1.      Kelas A kebakaran kertas kain, plastik, dan kayu.

2.      Kelas B kebakaran metana, amoniak, dan solar.

3.      Kelas C kebakaran arus pendek.

4.      Kelas D kebakaran alumunium, tembaga, besi, dan baja.

5.      Kelas E kebakaran bahan-bahan radioaktif.

6.      Kelas K kebakaran lemak dan minyak masak.

 

C.    Faktor Penyebab Kebakaran

Faktor penyebab kebakaran Umumnya bersumber pada faktor yang dapat menimbulkan adanya nyala api diantaranya:

1.      Faktor manusia penyebab kebakaran dari faktor manusia dapat berupa :  Pekerja human error, kurangnya disiplin dan sebagainya. Seperti contoh dari manusia yang kurang disiplin adalah membuang putung rokok dengan semarangan. Putung rokok yan belum mati sempurna berpotensi menyebapkan terjadinya kebakaran. Dan juga pengeola mnimnya pengawasam, rendahnya perhatian terhadap keselamatan kerja dan sebagainya.

2.      Faktor teknis penyebab kebakaran dari faktor teknis dapat berupa: fisik atau mekanis yaitu peningkatan suhu atau adanya api terbuka. Kimia yaitu penanganan, pengankutan, dan penyimpanan tidak sesuai petunjuk yang ada. Listrik (penyebab arus pendek) penyebab kebakaran ini karena perlengkapan listrik yang digunakan tidak sesiuai dengan prosedur yang benar dan standar yang telah ditetapkan oleh LMK (Lembaga Msalah Kelistrikan) PLN, karena rendahnya kualitas peralatan listrik dan kabel yang digunakan. Faktor alam dan bencana alam dapat berupa petir, gunung meletus, gempa bumi dan sebagainya.

 

D.    Tingkat Bahaya Kebakaran

Tingkat bahaya kebakaran dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

1.      Bahaya kebakaran ringan ancaman bahaya kebakaran yang mempunyai nilai dan keudahan kebakaran rendah dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas rendah, sehingga penyalaran api kecil.

2.      Bahaya kebakaran sedang 1 Ancaman bahaya kebakaran yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakarsedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar setinggi 2,5 meter. Pelepasan panas kebakaran yang sedang sehingga penjalaran apinya sedang.

3.      Bahaya kebakaran sedang 2 Ancaman bahaya kebakaran yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi lebih dari 4 meter. Pelepasan panas kebakaran panasnya sedang, sehingga penjalaran api sedang.

4.      Bahaya kebakaran sedang 3 Ancaman bahaya kebakaran yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar tinggi.  Menimbulkan suhu panas agak tinggi sehingga penjalaran api agak cepat.

5.      Bahaya kebakaran berat atau tinggi Ancaman bahaya kebakaran yang mempunyai nilai yang sangat tinggi dan apabila terjadi akan melepaskan suhu panas tinggi sehingga penjalaran api sangat cepat.

 

E.     Teknik Pemandam Kebakaran

Ada beberapa teknik dalam pemadaman kebakaran yaitu:

1.      Starvation yaitu menghilangkan/mengurangi bahan bakar sampai dibawah batas bisa terbakar.

Contoh: Menutup value vuel disaat terjadi kebakaran.

2.      Smothering yaitu, menyelimuti/menghilangkan/memisakan udara dengan bahan bakar.

Contoh: Memadamkan api dengan fire blanket

3.       Dilution yaitu, mengurangi/memisahkan kadar zat asam.

Contoh: Memadamkan api dengan APAR.

 

4.      Cooling yaitu, mengurangi panas sampai bahan bakar mencapai suhu dibawah titik nyala/mendinginka.

Contoh: Menyemprotkan air pada api

5.      Cut Chain Reaction yaitu, memutuskan rantai reaksi pembakaran baik secara kimiawi maupun mekanis.

Contoh: Memadamkan api dengan APAR CO2      .

 

F.     Fire Promotion

Fire Promotion atau Promosi Kebakaran dapat dilakukan dengan melalui cara sosialisasi ke masyarakat secara langsung seperti dengan mengajarkan masyarakat bagaimana cara memadamkan api agar tidak semakin membesar. Apabila api sudah membesar sebaiknya jangan panik dan segera menelfon pemadam kebakaran.

 

G.    Fire Prevention

Fire prevention atau pencegahan kebakaran merupakan program yang sangat penting untuk menjaga keamanaan, keselamatan dan kesuksesan pengoprasian fasilitas perusahaan. Program fire prevention adalah program yang bersifat terus-menerus. Untuk mendapatkan keberhasilan dalm program fire prevontion, maka program tersebut harus mengandung elemen-elemen berikut:

1.      Program Audit, yaitu proses rivew yang dilakukan secara sistematis dan independen untuk memverifikasi kesesuaian anatara sistem yang diterapkan dengan standar atau pedoman yang sudah ditetapkan. Audit mengevaluasi prosedur, operasi, dan kegiaanyang dilakukan dalam pengelolaan dan pelaksanaan program dalam rangka memverifikasi keseuaiaan yangsudah ditetapkan.

2.      Layout dan Spacing, yaitu dalam mendesain sesuatu fasilitas proses produksi, terutama proses menangani cairan mudah terbakar, debu mudah terbakar dan gas mudah terbakar harus mempertimbangkan tata letak dan jarak dari peralatan, mesin, tanki dan lain-lain untuk mencegah terjadinya penyebaran kebakaran.

3.      Pengendalian Sumber Nyala, unsur fundamental dari pencegahan kebakaran adalah mengontrol sumber pengapaian atau nyala. Proses harus dirancang, dipasang, dan dioprasikan dengan meminimalkan terjadiya tumpahan gas, cairan, dan debu mudah terbakar.

4.      Training, pekerja harus diberikan training yang cukup tentang aspek-aspek penting dari program pencegahan kebakaran. Program trining harus dilakukan secara berkala untuk meningkatkan dan memelihara pengetahuan dan keahlian pekerja.

5.      Housekeeping, bedasarkan hasil dari berbagai investigasi kebakaran ditemukan salah satu faktor penyebab utama terjadinya kebakaran adalah buruknya housekeeping dari perusahaan tersebut. Perusahaan yang bersih dan tertata dengan rapi akan mengurangi potensi terjadinya kebakaran. Perusahaan harus mengembangkan program housekeeping untuk menjaga kebersihan dan kerapian fasilitas perusahaan.

6.      Investifigasi Kecelakaan, yang dimaksud disini yaitu near miss (hampir celaka) dan kecelakaan yang menyebapkan terjadinya kerugian. Setiap kejadian kecelakaan dan hampir celaka harus dlakukan analisis penyebab terjadinya kecelakaan tersebut dan kemudian dibuat tindakan perbaikan dan pencegahan untuk menghindari terjadinya potensi kecelakaan.

7.      Inherently Safer Design, adalah upaya untuk membuat rancangan proses yang lebih aman dengan menghilangkan sumber-sumber bahaya baik dari bahan baku, peralatan danproses yang digunakan. Yang dimaksud dengan nherent safety atau inherently safer proses adalah suatu konsep pendekatan terhadap sistem keselamatan yang berfokus pada usaha untuk menghilangi atau mengurangi bahaya yang berhubungan suat rangkaian kondisi proses.

8.      Inspeksi dan perawatan pabrik, inspeksi dan perawatan terhadap fasilitas produksi harus dilakukan secara berkala. Perawatan terhadap fasilitas produksi adalah sangat penting untuk menghindari terjadinya kerusakan alat dan mesin yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Perusahaan harus memiliki prosedur inspeksi dan perawatan fasilitas perusahaan.

9.      Manajemen perubahan, setiap perubhahan proses baik prosedur kerja, bahan baku, formulasi produk dan peralatan produksi dapat berdampak terhadap program pencegahan kecelakaan. Manajemen perubahan dibutuhkan untuk memastikan bahwa setiap perubahan yang dilakukan telah direview dan disetujui oleh personal yang bertanggung jawab yang ditunuk.

10. Alarm dan Surveilance, merupakan elemen yang sangatpenting dalam program pecegahan kebakaran. Sistem alarm dan surveliance adalah untuk memberitahukan kejadian darurat, dapat digunakan secara manual oleh pekerja yang melihat bahaya, secara otomatis dapat mengaktifkan sistem perlindungan, dan memberitahu pekerja di tempat darurat dan mengkomunikasikan tindakan yang perlu dilakukan.

 

H.    Fire Protection

Proteksi Kebakaran (Fire protection) adalah merupakan aspek paling utama dalam program pelindungan kebakaran. Perecncanaan yang baik dalam aktifitas pencegahan kebakaran akan dapat menyelamatkan miliaran rupiah dan juga nyawa manusia akibat kebakaran. Program proteksi kebakaran membutuhkan investasi baik personel kebakaran, peralatan kebakaan, waktu, dan biaya-biaya lain yang cukup besar bagi perusahaan, namun hal ini dapat dijustifikasi dengan memperlihatkan bukti-bukti kerugiaan yang diakibatkan oleh kebakaran. Program pencegahan kebakaran dapat kelompokkan menjadi tiga:

1.      Program engineering, yaitu program yang meliputi perencanaan bangunan yang aman dari kebakaran dan perencanaan proses yang aman dari kebakaran, misalnya instalasi fire detection system (aktif) dan instalasi fire protection system (pasif)

2.      Program edukasi, yaitu program meningkatkan kesadaran pekerja terhadap kebakaran, yaitu dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan tentang kebakaran, identifikasi penyebab kebakaran, bahaya kebakaran, pencgahan kebakaran, dan evakuasi jika terjadi kebakaran.

3.      Program penegakan sistem, yaitu untuk memastikan bahwa semua sistem pencegahan kebakaran sesuai atau comply dengan fire code atau regulasi yang ada. Maka harus dilakukan inspeksi terhadap semua fasilitas pencegahan kebakaran secara berkala.

 

Active Fire Protection

Active Fire Protection adalah sekelompok sistem yang memerlukan sejumlah tindakan agar dapat bekerja secara efisian jika terjadi kebakaran. Tindakan ini dapat dioprasikan secara manual, seperti pemadaman kebakaran atau otomatis, seperti spinkler. Jadi, ketika api dan asap terdeteksi di fasilitas, alarm kebakaran atau asap akan memperingati mereka yang berada di dalam gedung dan bekerja untuk secara aktif mematikan atau memperlambat pertumbuhan api sampai petugas pemadam kebakaran memiliki kesempatan untuk sampai kesana. Setelah petugas pemadam kebakaran tiba, mereka menggunakan alat pemadam kebakaran dan selang api untuk memadamkan api.

 

Pasif Fire Protection

Pasif Fire Protection adalah sekelompok sistem yang memecah bangunan dengan menggunakan dinding dan lantai yang tahan api, menjaga api agar tidak menyebar dengan cepat dan menyediakan waktu untuk melarikan diri bagi orang-orang di dalam gedung. Peredam digunkan di saluran fasilitas untuk mencegah penyebaran api atau asap di seluruh sistem saluran kerja gedung. Pintu api membantu memecahbangunan, sekaligus memberi penghuninya cara melarikan diri. Dinding dan lantai api membantu memisahkan bangunan menjadi kompartemen untuk menghentikan penyebaran api atau asap dari kamar ke kamar. Untuk bangunan banyak lantai, penanda jalur keluar fotoluminesen membantu menerangi jalan menuju keselamatan di tangga yang gelap dan berasap.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

NFPA 10